Tuesday, June 7, 2016

pemikiran islam, bencana dan adzab dalam era globalisasi

Belakangan ini di jejaring social baru hangat diperbincangkan oleh sebagian kalangan, mengenai judulberita, setidaknya dari dua media online ternama yakni “Muhammadiyah: Jangan Kaitkan Bencana dengan Azab Bagi yang Melakukan Maksiat” oleh detik.com [1] dan “Muhammadiyah: Tak Boleh Ada Pikiran Bencana adalah Hasil Maksiat” oleh Republika.or.id. Judul yang membawa prokontra terutama dari kalangan Muhammadiyah. [2]
Banyak spekulasi muncul, beberapa mengkritisi ada juga yang membela pernyataan itu. Namun, paling tidak kita tahu bahwa judul itu ditulis berdasarkan kata-kata narasumber yakni : “Masyarakat cenderung memaknai bencana sebagai bentuk kemarahan Tuhan. Tidak boleh ada pikiran bencana adalah hasil maksiat”.
Membaca kata-kata itu kita diingatkan oleh kata-kata tokoh Islam Liberal. Ulil Absor Abdala beberapa waktu yang lalu juga mengkritik pejabat yang mengaitkan bencana alam dengan azab Tuhan. Ulil mengatakan, “Ada semacam template di kitab suci tentang bencana. Misalnya, ada cerita saat manusia membangkang kepada Tuhan kemudian Tuhan menghancurkan seluruh muka bumi. Nah, waktu sekarang ada bencana, para tokoh ini langsung mengambil template itu. Menurut saya, jangan dihubung-hubungkan, ini proses alam saja.”[3]
Mengapa ada pemikiran seperti ini? Hal ini dipengaruhi oleh pandangan alam (worldview) –setidaknya di dunia ini sekarang ada dua Worldview yang bertahan dan besar, yakni Western worldview dan Islamic Worldview.
Worldview Barat sekuler tersebut dibawa masuk ke negeri-negeri muslim pada masa penjajahan kolonial. Memang saat ini para penjajah itu sudah hengkang, namun produk pendidikan sekuler warisan penjajah tersebut masih digunakan sampai sekarang. Pendidikan sekuler ini pada akhirnya menghasilkan krisis dualitas. Yang digambarkan dengan adanya dikotomi antara illmu agama dan ilmu non-agama.[4]
Menurut Salisu Shehu, worldview Barat sekuler ini bisa tampil dalam tiga bentuk, yaitu worldview humanis, agnostik, atau ateis. Pada worldview ini, kepercayaan terhadap keberadaan tuhan tidak terlalu diperhatikan. Kalaupun keberadaan tuhan disadari, tetap saja tidak dianggap memiliki signifikansi terhadap kehidupan. Lebih jauh, keberadaan tuhan dapat dianggap sebagai mitos dan hanya materi yang benar-benar nyata.
Lebih jauh Salisu menjabarkan bahwa worldview ini menganggap manusia bisa mengetahui alam cukup dengan mengandalkan dan mempercayai intelek dan inderanya saja. Ketepatan dan keakuratan mengenai dunia dapat diraih dengan melakukan postulasi dan penalaran secara rasional serta dengan melakukan observasi dan eksperimen melalui alat indera. Metode saintifik atau lebih tepatnya metode deduktif hipotetis merupakan satu satunya cara yang terpercaya untuk mendapatkan pengetahuan atau mencapai mana yang benar dan mana yang salah.
Ciri khas Sekulerisme adalah dualism. Sekulerisme mempertentangkan agama dengan sains, wahyu dengan akal, demokrasi dengan teokrasi dan sebagainya.
Pemahaman seperti ini kemudian menimbulkan keterbelahan yang bisa menganggap bencana itu adalah fenomena alam biasa, hingga larangan agar tidak boleh berpikiran bahwa “Bencana adalah Hasil Maksiat” atau “jangan kaitkan bencana dengan azab bagi yang melakukan maksiat”.
Pemikir Islam seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas menyatakan bahwa Islam mempunyai pandangan alam yang jauh berbeda dari pandangan alam barat. Pandangan alam barat meletakkan humanism, rasionalisme dan sekularisme sebagai asas peradaban mereka. Sedangkan semua itu tidak diperlukan dalam ajaran Islam [5]
Terakhir, sebagai penutup tulisan ini mari kita renungkan ayat ini. Tabik! []
Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala menceritakan keadaan umat-umat terdahulu:
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ankabut: 40)

Sunday, May 29, 2016

Danau tes keunggulan wisata provinsi Bengkulu nan elok dan keindahan alam indonesia

Danau Tes adalah sebuah danau terbesar di Provinsi Bengkulu yang terbentang antara dua buah dusun adat suku Rejang, yaitu: dusun adat Kutei Donok (Desa Tengah) dan dusun adat Tes. Danau ini terletak di kecamatan Lebong SelatanKabupaten Lebong,[1]dan berada di lereng pegunungan Bukit Barisan dengan ketinggian 500 meter di atas permukaan laut, atau tepatnya pada posisi koordinat 3°13′40″LU 102°20′54″BT.
Secara geografis topografi Danau Tes dan daerah di sekitarnya adalah lereng perbukitan dengan ketinggian menengah (sekitar 500 meter di atas permukaan laut), hal ini praktis menjadikan Danau Tes dan daerah sekitarnya memiliki cuaca yang sejuk dengan curah hujan yang kebanyakan adalah merata sepanjang tahun.
Danau Tes memiliki banyak cerita rakyat berbentuk; legenda, mitos, kepercayaan dan tambo. Sejak zaman dahulu (kepercayaan para leluhur/nenek moyang orang Lebong), Danau Tes dikisahkan merupakan daerah yang angker dan tempat berdiamnya setan.
Danau ini terletak di dua wilayah kemasyarakatan (marga), yaitu Marga Jurukalang dan Marga Bermani. Beratus-ratus tahun kemudian kedua marga itu digabungkan dalam satu marga (hingga sistem kemargaan dihilangkan) menjadi Marga Bermani Jurukalang. Wilayah Marga Bermani Jurukalang itu (salah satu asal suku Rejang puak Lebong) membawahi mulai dari Desa Tapus (Topos, desa tertua di Lebong) sampai Desa Turan Lalang. Sekarang secara administratif Marga Bermani Jurukalang terbagi ke dalam dua wilayah kecamatan: yaitu Kecamatan Rimbo Pengadang dan Kecamatan Lebong Selatan (awalnya hanya wilayah Kecamatan Lebong Selatan).
Danau Tes yang merupakan perut Bioa Ketawen (Air Ketahun) merupakan wilayah sumber mata pencarian penduduk sekitarnya, termasuk sepanjang Air Ketahun yang melintasi Kabupaten Lebong. Di danau itu, masyarakatnya dapat mencari ikan dengan pancing, jala, bubu, jaring, mengacea (mancing di air deras), tajua (pancing yang dipasang malam hari), menyuluak (mencari ikan di malam hari dengan peralatan lampu petromak, tombak ikan bermata tiga (trisula) dan menggunakan perahu) dan sebagainya alat penangkap ikan khusus masyarakat Kotadonok dan sekitarnya.
Bila siang hari, ketika melintas di jalan raya di pinggir Danau Tes, dengan jelas dapat dilihat masyarakat mencari ikan di tengah Danau. Sedangkan yang mencari ikan dengan peralatan kecil, biasanya berada di pinggir-pinggir danau. Di sisi lain, Danau Tes merupakan sarana transportasi air bagi penduduk Kotadonok yang mengolah areal persawahan di kawasan sawah Baten (nama arean pertanian yang terletak diseberang Desa Tes, Taba Anyar, Mubai, dan Turun Tiging). Alat transportasi penduduk ke sawah dengan jarak tempuh sekitar 4 km adalah menggunakan perahu kayu, termasuk untuk mengangkut hasil panen.
Di sepanjang jalan di tepi Danau Tes yang menghubungkan Desa Kotadonok dengan Ibukota Kecamatan Lebong Selatan, Tes sepanjang 5 km yang jalannya adalah jalan utama di Kabupaten Lebong. Dapat disaksikan betapa indahnya panorama Danau Tes. Di sana ada tempat wisata bernama Pondok Lucuk (Pondok Runcing). Penamaan mengikuti bentuk bangunan yang sejak zaman kolonial, bentuk atap seperti kerucut. Luas bangunan sekitar 6x6 meter. Lokasinya berada di sebelah kanan arah jalan dari Kotadonok ke Tes, tepat di pinggir danau.

Sunday, May 15, 2016

RESMI: FIFA Cabut Pembekuan PSSI

Presiden FIFA Gianni Infantino memastikan organisasi sepakbola dunia tersebut telah mencabut sanksi penangguhan terhadap Indonesia. Kepastian itu disampaikan Infantino dalam kongres FIFA di Mexico City malam ini.
Pencabutan sanksi penangguhan terhadap Indonesia sudah dilakukan beberapa saat sebelum kongres digelar. Keputusan itu dikeluarkan setelah FIFA mendapat surat dari pemerintah Indonesia.
“Beberapa saat lalu sebelum kongres, kami [anggota komite eksekutif FIFA] sudah melakukan pertemuan, dan memutuskan sanksi penangguhan terhadap Indonesia dicabut,” ujar Infantino.“Pencabutan ini karena pemerintah Indonesia sudah mengirim surat kepada FIFA yang menjelaskan mereka telah mencabut sanksi terkait intervensi pemerintah kepada federasi [sepakbola Indonesia].”
“Itu artinya federasi sepakbola Indonesia tidak lagi ditangguhkan, dan mempunyai hak yang sama di sini [kongres].”
Pernyataan Infantino ini mendapat tepuk tangan dari peserta kongres. PSSI telah mengirim utusannya untuk mengikuti kongres tersebut, dan dinyatakan hadir saat pengabsenan peserta.

Monday, May 9, 2016

pole potition barca menuju gelar juara

Barcelona berada di pole position untuk memenangi gelar La Liga Spanyol pada musim ini setelah menundukkan Espanyol 5-0 di Nou Camp, Minggu (8/5) malam WIB. Hasil tersebut membawa Barcelona semakin mantap di puncak klasemen La Liga dengan perolehan 88 angka dari 37 laga, unggul satu poin dari Real Madrid, yang kini menjadi pesaing terberat tim Katalan tersebut untuk trofi juara. Laga jornada ke-38 yang akan menjadi penentu siapa yang bakal menyudahi musim ini dengan gelar juara. Jika Barcelona menang, trofi La Liga akan menjadi milik mereka. Sementara Real Madrid baru bisa menjadi juara apabila Barcelona imbang atau kalah di laga terakhir La Liga mereka, sedangkan mereka sendiri bisa membukukan kemenangan.

Wednesday, March 30, 2016

perguruan tinggi agama islam negeri terfavorit di indonesia

Belajar di Perguruan Tinggi sudah menjadi tuntutan pada zaman sekarang ini. Perusahaan- perusahaan swasta serta BUMN telah banyak yang mensyaratkan pendidikan minimal D3 ataupun S1 bagi pelamar di instansi ataupun lembaga tersebut. Dengan demikian, persaingan akan semakin ketat dan menuntut profesionalitas dari para pencari kerja. Maka dari itu, ada baiknya jika Kamu seharusnya memilih tempat belajar atau perguruan tinggi yang mampu membimbing menjadi seorang yang profesional di bidang tertentu dan memiliki nilai ‘plus’. Universitas Islam Negeri bisa menjadi jawaban atas kegalauan itu. Selain membimbing menjadi seorang yang profesional dibidang tertentu dan memiliki intelektualitas tinggi, Universitas Islam Negeri juga menitikberatkan pengajaran pada nilai-nilai moral berdasarkan ajaran Islam. Hal ini bisa menjadi nilai plus bagi kamu, karena sebuah Instansi atau lembaga tidak hanya butuh keprofesionalan atau intelektualitas pekerja, tetapi juga membutuhkan  moral pekerja yang baik.

Untuk itu, di bawah ini terdapat informasi 10 Universitas Islam Negeri Terbaik di Indonesia yang bisa menjadi pilihanmu : 


1. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim merupakan Universitas Islam Negeri yang berlokasi di Jl. Gajayana No. 50, Malang. UIN Maulana Malik Ibrahim ini sekarang dipimpin oleh seorang rektor yang bernama Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si.. UIN Maulana Malik Ibrahim menawarkan beberapa fakultas, yakni: 

- Fakultas Humaniora dan Budaya
- Fakultas Ekonomi
- Fakultas Psikologi
- Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
- Fakultas Syari’ah, dan 
- Fakultas Sains dan Teknologi. 


2. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel 

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel merupakan Instutit Agama Islam yang berada di Jl. Ahmad Yani No. 117, Surabaya. Saat ini IAIN ini dipimpin oleh Prof. Dr. Abd. A’La. IAIN Sunan Ampel ini memiliki beberapa fakultas, antara lain: 

- Fakultas Adab dan Humaniora
- Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi
- Fakultas Syariah dan Hukum
- Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
- Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
- Fakultas Sosial dan Ilmu Politik
- Fakultas Psikologi dan Kesehatan
- Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
- Fakultas Sains dan Teknologi. 

    Selain itu, IAIN Sunan Ampel juga menawarkan Program Sarjana S2 dan S3.

3. Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) merupakan salah satu Universitas Islam Negeri yang berlokasi di Jl. HR. Soebrantas No. 155 Km 15 Simpang Baru Panam, Pekanbaru, Riau. UIN SUSKA ini dipimpin oleh Prof. Dr. H. Munzir Hitami, MA. Saat ini, UIN SUSKA memiliki beberapa fakultas, antara lain: 

-  Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
-  Fakultas Ushuluddin
-  Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum
-  Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi
-  Fakultas Sains dan Teknologi
-  Fakultas Psikologi
-  Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
-  Fakultas Pertanian dan Peternakan, dan 
-  Program Pasca Sarjana.

4. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah berlokasi di Jl. Ir. H. Djuanda No. 95, Ciputat, Tangerang Selatan. Saat ini UIN Syarif Hidayatullah dipimpin oleh Prof. Dr. Komarudin Hidayat. UIN Syarif Beberapa fakultas yang ditawarkan di universitas ini, yaitu: 

-  Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
-  Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
-  Fakultas Adab dan Humaniora
-  Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
-  Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Dirasat Islamiah
-  Fakultas Psikologi
-  Fakultas Ekonomi dan Bisnis
-  Fakultas Sains dan Teknologi
-  Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
-  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan
-  Program Pasca Sarjana.


5. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga 

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga yang biasa disebut UIN SUKA merupakan Universitas Islam Negeri yang berlokasi di Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Saat ini UIN SUKA dipimpin oleh seorang Rektor yaitu Prof. Dr. H. Musa Asy’arie. Beberapa fakultas yang ditawarkan, antara lain: 

- Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
- Fakultas Dakwah dan Komunikasi
- Fakultas Syariah dan Hukum
- Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
- Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
- Fakultas Sains dan Teknologi
- Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora 
- Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
- Program Pasca Sarjana


6. Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin 

Universitas Islam Negeri Alauddin merupakan salah satu Universitas Islam Negeri yang terletak di Makassar. Universitas Islam Negeri Alauddin memiliki 7 fakultas antara lain: 

- Fakultas Syariah dan Hukum
- Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
- Fakultas Ushuluddin dan Filsafat 
- Fakultas Adab dan Humaniora
- Fakultas Dakwah dan Komunikasi
- Fakultas Sains dan Teknologi 
- Fakultas Kesehatan, dan
- Program Pascasarjana.


7. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati 

Universitas ini merupakan salah satu Universitas Islam Negeri yang terletak di daerah Cibiru, Bandung, Jawa Barat. UIN Sunan Gunung Djadi dipimpin oleh seorang rektor yang bernama Prof. Dr. H. Deddy Ismatullah, SH., M. Hum. Beberapa fakultas yang ditawarkan, antara lain :

- Fakultas Adab dan Humanioran
- Fakultas Dakwah dan Komunikasi
- Fakultas Syariah dan Hukum
- Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
- Fakultas Ushuluddin 
- Fakultas Psikologi
- Fakultas Sains dan Teknologi
- Fakultas Ilmu Sosial, Politik dan Ekonomi
- Program Magister S-2 dan Doktor S-3.


8. Sekolah Tinggi Agama Islam Purwokerto (STAIN) Purwokerto

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) berlokasi di JL. Jendral Ahmad Yani, Purwokerto, Jawa Tengah. Sekolah Tinggi Agama Islam ini dipimpin oleh Dr. A. Luthfi Hamidi, M. Ag. STAIN Purwokerto memiliki beberapa fakultas, yaitu: 

- Fakultas Dakwah
- Fakultas Tarbiyah
- Fakultas Syariah.

9. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari merupakan salah satu IAIN yang terletak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. IAIN Antasari dipimpin oleh seorang rektor yang bernama Prof. Dr. H. Akh. Fauzi Aseri, MA. IAIN ini memiliki beberapa fakultas yang ditawarkan, antara lain:

- Fakultas Tarbiyah
- Fakultas Syariah
- Fakultas Dakwah
- Fakultas Ushuluddin.


10. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) terletak di Jl. Amal Bakti No.8, Parepare, Sulawesi Selatan. STAIN Parepare diketuai oleh Prof. Dr. Abd. Rahim Arsyad. MA. STAIN Parepare memiliki beberapa fakultas, yaitu: 

- Fakultas Komunikasi dan Dakwah
- Fakultas Syariah
- Fakultas Tarbiyah, dan 
- Program Pasca Sarjana.

Sunday, March 20, 2016

Lebih dekat dengan ibnu rusyd seorang filosof hingga fisikawan ternama pada kejayaan islam

Sejarah
Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja.
Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Kristen pada abad pertengahan, termasuk pemikir semacamSt. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.
Karya serta Pemikiran
Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.
Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.

Friday, March 11, 2016

Gerhana matahari dalam khazanah keislaman

Dalam berbagai literatur studi Islam, Gerhana Matahari biasa diistilahkan dengan “kusuf” dan Gerhana Bulan dengan istilah “khusuf”. Sementara itu Al-Biruni dalam Al-Qanun al-Mas’udi menggunakan istilah kusuf untuk keduanya (Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan).
Sepanjang penelusuran penulis ditemukan hampir semua kitab fikih membahas Gerhana Matahari. Hal ini menunjukkan perhatian para ulama sangat besar terhadap peristiwa Gerhana Matahari. Pada umumnya pembahasan meliputi pelaksanaan salat gerhana beserta tekniknya yang bersumber dari berbagai hadis, diantaranya dari Aisyah dan Ibn Abbas sebagaimana dikutip dalam “Al-Mabsuth” karya Syamsuddin as-Sarkhasy. Para ulama berbeda pendapat tentang status salat gerhana. Jumhur ulama berpendapat bahwa salat gerhana hukumnya sunah muakad, sedangkan Imamiyah berpendapat salat gerhana hukumnya fardlu ‘ain.
Tulisan singkat ini hadir dalam rangka mereview karya yang telah ditulis sebelumnya untuk melihat perkembangan studi Gerhana Matahari di dunia Islam. Karya-karya dimaksud antara lain :
  1. Ilm al-Falak karya Muhammad Ridla Madur (1970). Buku ini terdiri enam belas bab yang menguraikan dasar-dasar astronomi Islam. Pada bab lima belas ditemukan pembahasan tentang Gerhana Matahari meliputi cara mengetahui terjadinya Gerhana Matahari dengan menggunakan berbagai rumus disertai latihan soal.
  2. Gerhana Manifestasi Kekuasaan Allah ditulis oleh Basit Wahid dan dimuat dalam Majalah Suara Muhammadiyah (1997). Menurutnya peristiwa gerhana dapat dihitung dengan tepat berdasarkan hasil perhitungan hisab (astronomi) baik yang sudah terjadi ratusan tahun yang lalu maupun yang akan terjadi ratusan tahun kemudian. Fenomena gerhana dapat juga dijadikan uji sahih hisab awal bulan kamariah. Sebab Gerhana Matahari selalu terjadi pada waktu ijtimak (konjungsi). Selain itu Gerhana Matahari merupakan manifestasi kebesaran Allah dalam alam semesta. Oleh karena itu ketika terjadi gerhana hendaklah umat Islam memperbanyak do’a, melaksanakan salat, memperbanyak sedekah, dan mengerjakan segala amal yang baik.
  3. Rasulullah Hanya Sekali Salat Gerhana Matahari (Terjadi saat gerhana matahari cincin 632 M) ditulis oleh T. Djamaluddin dan dimuat dalam harian Pikiran Rakyat (1998). Artikel ini ditulis dalam rangka menjelaskan peristiwa Gerhana matahari Cincin 22 Agustus 1998 yang melewati sebagian wilayah Indonesia dengan mengkaitkan peristiwa Gerhana Matahari pada zaman nabi saw. Menurutnya sejak nabi saw diangkat menjadi rasulullah sampai meninggal hanya ada lima kali peristiwa Gerhana Matahari di Mekah dan Madinah. Empat Gerhana Matahari terjadi di Mekah dan sekali di Madinah. Selanjutnya ia menyimpulkan bahwa rasulullah hanya sekali melaksanakan Salat Gerhana Matahari Cincin pada tanggal 30 Januari 632.
  4. Al-Kusuf wa al-Khusuf karya Ahmad Basam Hatim (1999). Pada bagian awal dijelaskan konsep dasar astronomi Islam (universal time, ephemeris time, perigee, apogee, perihelion, aphelion, ascending node, descending node, umbra, penumbra). Menurut data yang terkumpul sejak tahun 1901 sampai 2000 telah terjadi Gerhana Matahari Total sebanyak 71 kali dan pada tahun 2001 sampai 2100 akan terjadi Gerhana Matahari Total sebanya 69 kali. Pada bagian akhir ditampilkan berbagai foto Gerhana Matahari Total yang terjadi pada 21 September 1922, 19 Juni 1936, 22 September 1968, 30 Juni 1973, dan 21 Oktober 1977.
  5. Ilm al-Falak al-‘Am karya Mustafa Mahmud dan Mirfat Sayyid Awad (2000/1420). Buku ini terdiri sebelas bab yang menjelaskan persoalan astronomi Islam meliputi sejarah perkembangan ilmu falak, kalender Islam, arah kiblat, dan gerhana. Pada sub bagian Gerhana Matahari hanya menjelaskan pengertian dan syarat-syarat terjadinya Gerhana Matahari.
  6. Al-Qanun al-Mas’udi karya Abu Raihan Muhammad bin Ahmad al-Biruni (w. 440 H). Karya ini ditahqiq oleh Abdul Karim Syami al-Jundi dan diterbitkan pada tahun 2002/1422 sebanyak tiga jilid. Pada jilid kedua ditemukan pembahasan tentang Gerhana Matahari meliputi syarat-syarat terjadinya gerhana dan macam-macamnya.
  7. Al-Mawsu’ah al-Falakiyah karya Ibrahim Hilmi al-Ghury (2008/1429). Buku ini merupakan ensiklopedi tematis tentang astronomi Islam. Salah satu tema yang dibahas adalah Matahari – sub tema menjelaskan persoalan Gerhana Matahari meliputi aneka macam Gerhana Matahari dan syarat-syarat terjadinya Gerhana Matahari Total (GMT).
  8. Al-Kusuf wa al-Khusuf ditulis oleh Zainul Abidin Mutawalli (2009/1430). Buku ini menjelaskan perlbagai peristiwa gerhana, durasi gerhana, dan lokasi yang dilintasi. Pada tahun 2008 sampai 2010 terjadi tiga Gerhana Matahari Total, yaitu 1 Agustus 2008 (jalur GMT adalah Amerika Utara, Eropa, Asia, Mongolia, dan Cina), 23 Juli 2009 (jalur GMT adalah Asia Timur, Cina, Nepal, Lautan Pasifik), dan 11 Juli 2010 (jalur GMT adalah Amerika, Chili, dan Argentina).
  9. Mabadi’ Ilm al-Falak al-Hadis karya Abdul Aziz Bakri Ahmad (2010/1431). Buku ini sangat lengkap membicarakan persoalan astronomi Islam terdiri tujuh belas bab. Untuk memudahkan pemahaman masing-masing bab disertakan soal latihan. Khusus pada bab kesembilan dijelaskan persoalan Gerhana Matahari meliputi aneka macam gerhana, durasi, dan tahapan gerhana. Pada bab ini juga dibahas fenomena Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tanggal 29 Maret 2006 dan cara mengambil gambar pada saat terjadi gerhana.
  10. Mausu’ah al-Aflak wa al-Auqat karya Abu Aiman Khalil Ahmad Abdul Latif (2010/1431). Buku ini merupakan ensiklopedi astronomi Islam yang membahas tentang dasar-dasar astronomi, arah kiblat, awal waktu salat, kalender, perbandingan tarikh, dan gerhana. Pada sub bagian Gerhana Matahari hanya menjelaskan pengertian dan bentuk. Pada bagian akhir ada beberapa lampiran, seperti glosari, proses perhitungan arah kiblat, awal waktu salat dengan menggunakan markaz kota New Delhi, time zone, dan data geografis kota-kota seluruh dunia (lima benua) beserta arah kiblat.
  11. Menjejak Keunikan Gerhana Matahari karya Kassim Bahali (2015). Buku ini menerangkan pengalaman penulis dalam melakukan ekspedisi pengamatan Gerhana Matahari Total di berbagai negara yang sangat inspiratif ditulis menggunakan gaya bahasa yang mudah dan ringkas dilengkapi pelbagai foto yang sangat menarik dan menakjubkan.
Selain karya-karya di atas juga ditemukan penelitian tentang gerhana yang dilakukan oleh Muh. Rasywan Syarif dengan judul “Fiqh Astronomi Gerhana Matahari (2012)”. Selanjutnya perlu diketahui, Syekh Arsyad al-Banjari juga pernah menulis buku tentang gerhana sebagaimana ditunjukkan oleh Abu Daudi (salah seorang keturunan Syekh Arsyad) ketika penulis berkunjung ke kediamannya. Menurutnya karya Syekh Arsyad tersebut belum ada yang mengkaji atau menjadikan objek penelitian karena masih berupa manuskrip.
Dari sekian buku dan artikel yang dijelaskan di atas tampak persoalan gerhana menjadi objek kajian yang menarik bahkan secara tidak langsung telah terjadi proses integrasi-interkoneksi. Lebih dari itu kajian terhadap fenomena gerhana akan menyadarkan manusia akan kebesaran Sang Maha Pencipta. Peristiwa gerhana juga dapat dijadikan momentum untuk memperbaiki data hisab. Oleh karena itu peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 bertepatan dengan tanggal 29 Jumadilawal 1437 H yang sangat langka ini akan melintasi wilayah Indonesia (Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwak, Ternate, dan Halmahera) tidak boleh terlewatkan begitu saja. Saatnya umat Islam bergandengan melakukan pengamatan, gerakan nasional Salat Gerhana Matahari, berzikir, memperbanyak sedekah, dan amal salih.
Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Sunday, February 28, 2016

filsafat al ghazali sebuah pemikiran kemajuan dalam dunia islam

      Nama asli Imam al-Ghazali ialah Muhammad bin Ahmad, Al-Imamul Jalil, Abu Hamid Ath Thusi Al-Ghazali. Lahir di Thusi daerah Khurasan wilayah Persia tahun 450 H (1058 M). Pekerjaan ayah Imam Ghazali adalah memintal benang dan menjualnya di pasar-pasar. Ayahnya termasuk ahli tasawuf yang hebat, sebelum meninggal dunia, ia berwasiat kepada teman akrabnya yang bernama Ahmad bin Muhammad Ar Rozakani agar dia mau mengasuh al-Ghazali. Maka ayah Imam Ghazali menyerahkan hartanya kepada ar-Rozakani untuk biaya hidup dan belajar Imam Ghazali.[1]Ia wafat di Tusia, sebuah kota tempat kelahirannya pada tahun 505 H (1111 M) dalam usianya yang ke 55 tahun.

       Pada masa kecilnya ia mempelajari ilmu fiqh di negerinya sendiri pada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Rozakani (teman ayahnya yang merupakan orang tua asuh al-Ghazali), kemudian ia belajar pada Imam Abi Nasar Al-Ismaili di negeri Jurjan. Setelah mempelajri beberapa ilmu di negerinya, maka ia berangkat ke Naishabur dan belajar pada Imam Al-Haromain. Di sinilah ia mulai menampakkantanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa itu seperti ilmu matiq (logika), falsafah dan fiqh madzhab Syafi’i. Karena kecerdasannya itulah Imam Al-Haromain mengatakan bahwa al-Ghazali itu adalah ”lautan tak bertepi...”.[2] Setelah Imam Al-Haromain wafat, Al-Ghazali meninggalkan Naishabur untuk menuju ke Mu’askar,[3]ia pergi ke Mu’askar untuk melakukan kunjungan kepada Perdana Mentri Nizam al Muluk dari pemerintahan Bani Saljuk. Sesampai di sana, ia disambut dengan penuh kehormatan sebagai seorang ulama besar. Semuanya mengakui akan ketinggian ilmu yang dimiliki al-Ghazali. Menteri Nizam al Muluk akhirnya melantik al-Ghazali pada tahun 484 H/1091 M. Sebagai guru besar (profesor) pada perguruan Tinggi Nizamiyah yang berada di kota Baghdad. Al-Ghazali kemudian mengajar di perguruan tinggi tersebut selama 4 (empat) tahun. Ia mendapat perhatian yang serius dari para mahasiswa, baik yang datang dari dekat atau dari tempat yang jauh, sampai ia menjauhkan diri dari keramaian.[4]

         Di samping ia menjadi guru besar di perguruan tinggi Nizamiyah ia juga diangkat sebagai konsultan (mufti) oleh para ahli hukum Islam dan oleh pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam masyarakat. Akan tetapi kedudukan yang diperoleh di Baghdad tidak berlangsung lama akibat adanya berbagai peristiwa atau musibah yang menimpa, baik pemerintahan pusat (Baghdad) maupun pemerintahan Daulah Bani Saljuk, di antara musibah itu ialah: pertama, pada tahun 484 H/1092 M, tidak lama sesudah pertemuan al-Ghazali dengan permaisuri raja Bani Saljuk, suaminya, Raja Malik Syah yang terkenal adil dan bijaksana meninggal dunia. Kedua, pada tahun yang sama (485 H/1092 M), perdana Menteri Nidham Al-Muluk yang menjadi sahabat karib al-Ghazali mati dibunuh oleh seorang pembunuh bayaran di daerah dekat Nahawand, Persi. Ketiga, dua tahun kemudian, pada tahun 487 H/1094 M, wafat pula Khalifah Abbasiyah, Muqtadi bi Amrillah. Ketiga orang tersebut di atas, bagi al-Ghazali, merupakan orang-orang yang selama ini dianggapnya banyak memberi peran kepada al-Ghazali, bahkan sampai menjadikannya sebagai ulama yang terkenal.[5] Dalam hal ini, karena mengingat ketiga orang ini mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap pemerintahan bani Abbas yang pada saat itu dikendalikan oleh daulah Bani Saljuk, meninggalnya ketiga orang ini sangat mengguncangkan kestabilan pemerintahan bergelar Mustadhhir Billah (dilantik tahun 487 H/1094 M). Pemerintahan menjadi sangat lemah untuk menangani kemelut yang terjadi di mana-mana terutama dalam menghadapi teror aliran Bathiniyah yang menjadi penggerak dalam pembunuhan secara gelap terhadap Perdana Menteri Nidham Al-Muluk.[6]

      Dalam suasana kritis itulah, Al-Ghazali di minta oleh Khalifah Mustadhir Bilah (Masa Bani Abbasiyah) untuk terjun dalam dunia politik dengan menggunakan penanya. Menurutnya, tidak ada pilihan, kecuali memenuhi permintaan Khalifah tersebut. Ia kemudian tampil dengan karangannya yang berjudul Fadha’il Al-Bathiniyah wa Fadha’il Al-Mustadhhiriyah (tercelanya aliran Bathiniyah dan baiknya pemerintahan Khalifah Mustadhhir) yang disingkat dengan judul Mustadhhiry. Buku itupun disebarluaskan di tengah masyarakat umum, shingga simapti masyarakat terhadap pemerintahan Abbasiyah kala itu dapat direbut kembali. Kemudian timbullah gerakan menentang aliran Bathiniyah, tetapi sebaliknya pula, gerakan Bathiniyah ini tidak berhenti untuk menjalankan pengaruhnya untuk membuat kekacauan.[7]

Al-Ghazali merupakan seorang yang berjiwa besar dalam memberikan pencerahan-pencarahan dalam Islam. Ia selalu hidup berpindah-pindah untuk mencari suasana baru, tetapi khususnya untuk mendalami pengetahuan. Dalam kehidupannya, ia sering menerima jabatan di pemerintahan, mengenai daerah yang pernah ia singgahi  dan terobosan yang ia lakukan antara lain:

a.    Ketika ia di Baghdad, ia pernah menjadi guru besar di perguruan Nidzamiyah selama 4 (empat) tahun.

b.    Ia meninggalkan kota Baghdad untuk berangkat ke Syam, di Syam ia menetap hampir 2 (dua) tahun untuk berkhalwat melatih dan berjuang keras membersihkan diri, akhlak, dan menyucikan hati hati dengan mengingat Tuhan dan beri’tikaf di mesjid Damaskus.

c.    kemudian ia menuju ke Palestina untuk mengunjungi kota Hebron dan Jerussalem, tempat di mana para Nabi sejak dari Nabi Ibrahim sampai Nabi Isa mendapat wahyu pertama dari Allah.

d.   tidak lama kemudian ia meninggalkan Palestina dikarenakan kota tersebut di kuasai Tentara Salib, terutama ketika jatuhnya kota Jerussalem pada tahun 492 H/1099 M, lalu iapun berangkat ke Mesir, yang merupakan pusat kedua bagi kemajuan dan kebesaran Islam sesudah Baghdad.

e.    Dari Palestina (Kairo), iapun melanjutkan perjalanannya ke Iskandariyah. Dari sana ia hendak berangkat ke Maroko untuk memenuhi undangan muridnya yang beranama Muhammad bin Taumart (1087-1130 M), yang telah merebut kekuasaanya  dari tangan kaum Murabithun, dan mendirikan pemerintahan baru yang bernama Daulah Muwahhidun. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi memenuhi undangan ke Maroko, ia tetap tinggal di Mekkah, ia  berasalan untuk melaksanakan kewajiban yang ke lima dalam rukun Islam, yakni melaksanakan ibadah haji, kemudian ia menziarahi kuburan Nabi Ibrahim.

f.     Selanjutnya ia kembali ke Naisabur, di sana ia mendirikan Madrasah Fiqh, madrasah ini khusus untuk mempelajari ilmu hukum, dan membangun asrama (khanqah) untuk melatih Mahasiswa-mahasiswa dalam paham sufi di tempat kelahirannya.

Thursday, February 25, 2016

masa kecil buya hamka seorang pahlawan nasional dari sumatera barat yang berjuang di tanah air dengan sebuah gagasan dan karya sastra yang mampu menyatukan seluruh rakyat indonesia

       Abdul Malik, nama kecil Hamka lahir pada 17 Februari 1908 [Kalender Hijriyah: 13 Muharram 1326] di sebuah dusun Nagari Sungai Batangyang berada di tepian Danau ManinjauSumatera Barat. Hamka adalah anak sulung dari empat bersaudara dalam keluarga ulamaAbdul Karim Amrullah dari istri keduanya Siti Shafiah. Keluarga ayahnya adalah penganut agama yang taat. Abdul Karim Amrullah yang berjulukan Haji Rasul dikenang sebagai ulama pembaru Islam di Minangkabau, putra dari Muhammad Amrullah. Adapun keluarga ibunya lebih terbuka kepada adat. Pandangan ayah Hamka yang berbenturan dengan tradisi adat dan amalan tarekat mendapat penolakan masyarakat—tetapi tidak melakukan pertentangan terbuka karena menaruh hormat kepada Muhammad Amrullah yang disegani sebagai pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah. Setelah Muhammad Amrullah meninggal, ayah Hamka pindah ke Padangpanjang.
       Malik masih berusia empat tahun ketika orangtuanya pindah ke Padang. Ia melewati masa kecil di rumah anduangnya, nenek dari garis ibu. Bersama teman-teman sebaya, Hamka kecil menghabiskan waktu bermain di Danau Maninjau. Mengikuti tradisi anak-anak laki-laki di Minangkabau, Malik belajar mengaji di surau yang berada di sekitar tempat ia tinggal.[1] Pada usia enam tahun, Malik diajak pindah ayahnya ke Padang Panjang, belajar mengaji pada ayahnya sendiri. Malik sempat mendapatkan pengetahuan umum seperti berhitung dan membaca saat masuk ke Sekolah Desa pada tahun 1915, tetapi berhenti setelah tamat kelas dua.[2][3][4][a] Lokasi Sekolah Desa berada di Guguk Malintang, menempati kawasan tangsi militer sehingga memengaruhi pergaulan Malik. Hajir Rasul berencana menyekolahkan Malik di Sekolah Gubernemen tetapi kelas telanjur penuh. Malik kecil membawa perangai nakal karena sering menyaksikan perkelahian antara murid kedua sekolah—karena murid Sekolah Gubernemen memandang rendah murid Sekolah Desa.
       Pada 1916, Zainuddin Labay El Yunusy membuka sekolah agama Diniyah School yang menerapkan sistem kelas di Pasar Usang. Sambil tetap belajar setiap pagi di Sekolah Desa, ia belajar setiap sore di Diniyah School.[5] Diniyah School mengajarkan bahasa Arab dan materi yang diadaptasi dari buku-buku sekolah rendah Mesir. Namun sejak dimasukkan ke Thawalib oleh ayahnya pada tahun 1918, ia tidak dapat lagi mengikuti pelajaran di Sekolah Desa.[6][7] Ia belajar di Diniyah School setiap pagi, sementara sorenya belajar di Thawalib dan malamnya kembali ke surau.[8] Kebanyakan murid Thawalib adalah remaja yang lebih tua dari Malik karena beratnya materi yang dihafalkan. Kegiatan Hamka kecil setiap hari yang demikian diakuinya membosankan dan mengekang kebebasan masa kanak-kanaknya.[9]
        Saat berusia 12 tahun, Malik menyaksikan perceraian orangtuanya. Haji Rasul menceraikan Siti Shafiah dan membawa Malik tinggal di Padangpanjang. Hari-hari pertama setelah perceraian, Malik tak masuk sekolah, menghabiskan waktu berpergian berkeliling kampung. Ketika berjalan di pasar, ia menyaksikan seorang buta yang sedang meminta sedekah. Malik yang iba menuntun dan membimbing peminta itu berjalan ke tempat keramaian untuk mendapatkan sedekah sampai mengantarkannya pulang. Namun, ibu tirinya memarahinya saat mendapati Malik di pasar hari berikutnya, "Apa yang awak lakukan itu memalukan ayahmu." Malik pernah pula berjalan kaki menuju Maninjau yang jauhnya 40 km dari Padangpanjang untuk memenuhi kerinduan terhadap ibunya. Setelah lima belas hari Malik meninggalkan sekolah, seorang guru dari Thawalib yang menyangka Malik sakit datang ke rumah, menyampaikan ketidakhadiran Malik. Mengetahui anaknya membolos, Abdul Karim Amrullah marah dan menampar anaknya; tetapi segera memeluk Malik dan meminta maaf.